Tradisi dan budaya menjadi sebuah khazanah dan menjadikan warna sosial masyarakat  dalam keberagaman. Keberagaman menjadi modal kuat untuk menumbuhkan ekonomi masyarakat.

Dermaji adalah sebuah desa dengan ciri khas budaya yang senantiasa terjaga. Termasuk tradisi menghormati para leluhur yang masih terjaga dari dulu hingga sampai saat ini. Hanya cara menghormatinya, dulu dan sekarang yang berbeda.

Dulu, Pedupan adalah salah satu media yang digunakan oleh para penganut kepercayaan untuk menghormati para leluhur. Pedupan adalah alas untuk menampung bara api yang nantinya ditaburi pecahan kemenyan atau serbuk apapun yang berbau wangi. Pedupan biasanya berbahan dasar  tembikar, pecahan genteng atuapun kayu keras yang dibentuk menyerupai asbak besar.  Selain itu pedupan juga bisa terbuat dari kulit manggar kelapa (mancung) yang telah kering.

Diyakini oleh masyarakat pada masa itu bahwa asap wangi dari serbuk yang dibakar akan mempercepat do’a yang kita panjatkan kepada Yang Maha Kuasa. Mereka juga beranggapan bahwa mendoakan para leluhur merupakan salah satu sarana bertawasul kepada Penguasa Jagad Raya ini.

Pedupan pada saat ini sudah sulit dijumpai dimasyarakat, karena tradisi dan cara menghormati para leluhur sudah bergeser mengikuti perkembangan jaman. Pengetahuan agama telah memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bagaimana cara menghormati para leluhur dengan benar.