Logo GDMDi bulan Desember 2012 ini Gerakan Desa Membangun (GDM) berusia satu tahun. GDM pada awalnya menjadi lingkar belajar bagi para pelaku dan pegiat desa untuk meningkatkan kemampuan serta kapasitasnya. Seiring berjalannya waktu, GDM kemudian berevolusi menjadi semacam gerakan sosial berbasis partisipasi masyarakat desa (masyarakat lokal). GDM memiliki fokus perhatian pada pengembangan tata kelola sumber daya desa dan pelayanan publik yang prima kepada masyarakat, termasuk praktik good governance maupun open goverment..

Usia satu tahun bagi GDM adalah usia yang masih sangat belia. Jika diibaratkan sebuah tanaman, usia 1 tahun dapat dianggap sebagai usia benih yang baru tumbuh tunas.

Namun, sebagai sebuah tanaman, kita bisa berharap, GDM akan tumbuh dengan baik karena “benih” GDM juga memiliki kualitas yang baik. Saya katakan seperti itu, karena GDM tumbuh bermula dari inisiatif desa-desa yang didorong oleh sebuah kesadaran bahwa untuk membangun desa pertama-tama yang harus melakukannya adalah masyarakat desa itu sendiri. Bukan orang lain atau pihak lain dari “luar desa”. Pilihan nama “Gerakan Desa Membangun” menunjukkan kesadaran itu.

Hal ini berbeda dengan paradigma membangun desa yang selama ini sering dipakai oleh pihak supra desa (baca: negara) dalam melihat dan membangun desa. Dalam pendekatan ini, desa dilihat hanya semata sebagai obyek saja. Pemerintah Desa pun hanya dianggap sekadar sebagai kepanjangan tangan Pemerintah belaka. Melalui pendekatan Membangun Desa, supra desa melihat desa hanya dari kacamata yang cenderung birokratis semata.

Akibat dari pendekatan yang seperti itu, pembangunan desa yang dilakukan pun seringkali dibuat dalam sebuah blueprint yang sama dan seragam untuk semua desa. Nila-nilai kearifan lokal masyarakat desa yang menjadi nafas kehidupan masyarakat desa pun seringkali terabaikan dari pendekatan ini. Padahal kearifan lokal masyarakat seringkali menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam membangun desa.

Kondisi semacam itu menyebabkan desa sebagai entitas sosial, politik dan budaya kurang diakui. Desa belum dilihat sebagai subyek. Desa pun memiliki posisi yang lemah vis a vis negara. Desa hanya akan dianggap penting ketika menjelang Pemilihan Umum (Pemilu). Padahal kita tahu 70 persen masyarakat kita tinggal di desa. Dan di desa itu pulalah terdapat sumber daya negara, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

Berbeda dengan pendekatan Membangun Desa, Gerakan Desa Membangun menekankan penerapan prinsip membangun dengan kekuatan sendiri. Dalam pendekatan ini, aktor-aktor pembangunan desa, seperti Pemerintah Desa, Tokoh Masyarakat dan masyarakat desa berusaha melakukan tata kelola sumber daya desa secara optimal sesuai potensi dan modal sosial yang dimiliki. Termasuk dalam hal ini adalah pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi serta pengembangan jejaring.

Asumsi dari Gerakan Desa Membangun adalah bahwa untuk mewujudkan kemajuan desa, masyarakat desa tidak selayaknya hanya menunggu belas kasihan orang lain atau pihak lain dari “luar desa” saja. Tetapi masyarakat desa sendirilah yang harus bergerak untuk merubah desanya agar menjadi lebih baik. Disinilah mental kemandirian itu muncul.

Lalu, apakah dengan kemandirian tersebut desa tidak butuh orang atau pihak lain? Tentu tidak seperti itu. Agar desa maju, desa harus menjalin hubungan dengan berbagai pihak. Tapi kerangka hubungan antara desa dengan pihak lain sebagai kerangka hubungan yang sejajar atau sederajat. Di sini desa pun akan menjadi lebih bermartabat. Dengan memperkuat desa sebetulnya pada ujungnya juga akan memperkuat negara. Di sinilah kita menemukan makna peran dari Gerakan Desa Membangun. Sehingga tidak berlebihan kiranya jika dikatakan Gerakan Desa Membangun menjadi wujud kongkrit dari upaya penguatan masyarakat sipil (civil society).

Lalu, jika GDM diibaratkan sebagai tanaman, dapatkah tanaman tersebut tumbuh dengan subur dan akar-akarnya menancap kokoh dan kuat ke dalam bumi? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut tergantung kepada sikap para pelaku dan pegiat GDM. Dalam hal ini ada beberapa hal yang menurut saya perlu mendapatkan perhatian agar GDM bisa tumbuh dengan subur.

Pertama, terus memperkuat GDM sebagai lingkar belajar bagi para pelaku dan pegiat desa. Kedua, perlu memperjelas arah dan tujuan GDM. Ketiga, terus berupaya membangun jejaring dengan pihak-pihak yang bisa memperkuat arah dan tujuan GDM.

Penulis: Bayu Setyo Nugroho, Kepala Desa Dermaji, pernah menjadi petani panili

0 Shares