image

 

Gagasan museum desa mendorong para tenaga pendidikan di Desa Dermaji untuk terlibat aktif. Ketertarikan mereka dalam pendirian museum karena museum bisa menjadi wahana edukatif atau media belajar para siswa. Melalui pelbagai artefak dan informasi koleksi, siswa bisa mengenal benda sekaligus pengetahuan yang menempel di pada benda itu.

Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN), Slamet (46), mendukung penuh pendirian Museum Desa Naladipa di Desa Dermaji. Baginya, keberadaan museum desa sangat perlu sekaligus menunjang dunia pendidikan. Siswa bisa belajar bagaimana cara hidup masyarakat Desa Dermaji dari zaman ke zaman.

“Bila anak sekarang melihat cara hidup warga Dermaji pada zaman dulu mungkin terlihat lucu. Tapi semua itu kejadian nyata, cara hidup yang pernah dilakukan oleh nenek moyang mereka,” ujar Slamet.

Untuk melengkapi koleksi museum, Slamet tengah mendokumentasikan tradisi sunatan di Desa Dermaji. Sebelum praktik anastesi dilakukan oleh pihak medis, beragam cara dilakukan agar rasa sakit saat sunatan makin berkurang, misalnya pengantin sunat diwajibkan berendam di sungai yang dalam (kedung) selama 1-2 jam. Selain itu, untuk membahagiakan pengantin sunat beragam iringan musik dan lagu dilantunkan dalam prosesi sunatan.

“Pada urusan sunat saja, ada banyak ritual yang musti dilakukan. Bila kita cermati, setiap ritual memiliki makna yang ilmiah, misalnya tradisi berendam di sungai berhenti setelah ditemukan obat bius,” lanjutnya.