Lesung adalah alat tradisional yang terbuat dari kayu keras. Kayu yang dipilih adalah kayu “asem/Mbawang”. Kayu yang dipilih biasanya yang sudah berumur tua. Ada alasan tersendiri mengapa kayu yang diplih kayu asem bukan kayu keras lainnya seperti kayu jati atau kayu keras lainnya. Ini ada erat kaitannya dengan hasil suara atau hasil tumbukan.

Proses penggunaan lesung pun memiliki cerita tersendiri. Konon katanya sebelum dipakai lesung-lesung ini ditutupi agar apabila ada uyang-uyangan ( sebangsa roh halus yang bisa mengambil benda/harta milik petani,red) yang mau menagmbil padi milik pak tani tidak jadi mengambilnya. Dan juga sebelum menumpuk padi, petani selalu melakukan adegan ritual dengan nyanyian-nyanyian zaman dahulu yang dikenal dengan “dondangan/gendongan”. Dari hasil nyanyian syair-syair kuno ini yang dipadu dengan bunyi-bunyian tumbukan alu dan lesung ini menghasilkan irama yang bagus dan khas sekali. Ini yang menjadikan tenaga para penumbuk tidak terasa lelah dan tetap semangat.

Lesung juga bisa menjadi simbol petani zaman dahulu. Petani yang memiliki lesung ini kebanyakan bagi petani yang memiliki areal sawah yang luas dan padi yang melimpah ruah. Jadi jumlah lesung pada zamannya pun sangat sedikit.

Lesung pun pada penggunaannya tidak sembarang hari, ada hari-hari tertentu yang  dihindari. Hari-hari yang dilarang untuk “gendongan” antara lain jum’at kliwon, selasa kliwon dan hari yang mempunyai jumlah pasaran neptu 6 (neptu nem).  (Slamet Waluyo)

0 Shares