image

DERMAJI.DESA.ID – Sya’ban dalam Kalender Hijriyah adalah sebutan bulan Ruwah atau Sadran untuk masyarakat jawa. Bulan Sadran adalah gerbang menuju bulan Suci Romadhon. Masyarakat kultural jawa biasanya memaknai Syaban sebagai bulan persiapan untuk menyongsong bulan suci Romadhon.

Tradisi adalah suatu kebiasaan yang tetap terjaga demi lestarinya sebuah budaya. Nyadran wulan, adalah sebuah kebiasaan yang tetap lestari sampai saat ini di wilayah Desa Dermaji. Ada kegiatan rutin yang menjadi tradisi di bulan Sya’ban ini, diantaranya adalah bersih-bersih makam leluhur, mendo’akan para leluhur dan diakhiri dengan “selametan” berupa makan bersama dalam satu kelompok ataupun perorangan.

Untuk masyarakat diwilayah Dusun II Citunggul, Nyadran Wulan masih dilaksanakan perorangan dirumah masing-masing dengan mengundang para tetangga. Sedangkan di Wilayah Dusun I biasanya di gelar bersama dalam sebuah kelompok RT atau RW. Masyarakat Desa Dermaji mempunyai prinsip bahwa melestarikan budaya adalah suatu keharusan. Karena didalam pelestarian budaya akan terjalin sebuah kebersamaan dan dalam kebersamaan akan senantiasa terjalin silaturahmi yang abadi.

Seperti di ceritakan oleh Kasduri (75), tujuan diadakannya “kepungan” atau makan bersama dalam sadranan adalah untuk menghormati dan mengingat nenek moyang kita. Karena makan bersama digelar setelah masing-masing keluarga mengirim do’a untuk leluhurnya masing-masing. “Dalam do’a yang ditujukan kepada Alloh SWT, kita memohon agar para leluhur dan kita yang masih berada dalam dunia ini senantiasa dalam LindunganNya”, lanjut Kasduri.

Masyarakat di wilayah RT 03 RW 01 melakukan tradisi sadranan pada hari Kamis, 20 Mei 2016, mereka berbondong bondong membawa aneka makanan dari rumah ke Pendopo Darmokusumo Dermaji setelah sebelumnya mengirim do’a untuk leluhur. Makanan di susun berjejer dan semua masyarakat yg hadir berdo’a bersama di pimpin oleh sesepuh desa. Setelah selesai berdo’a dilanjutkan dengan makan bersama. (Bowo)