Kusan

Kusan adalah anyaman bambu yang berbentuk kerucut. Salah satu pengrajin kusan yang rapi di Dermaji adalah bapak Tawang (50 tahun) yang bertempat tinggal di RT 07 RW I grumbul Tipar desa Dermaji. Bertahun-tahun beliau membuat kerajinan kusan yang ia manfaatkan sebagai tambahan membantu kegiatan ekonominya. Bapak Tawang menebang pohon-pohon bambunya yang ada di kebun untuk membuat kusan-kusan yang akan dijual atau yang sudah dipesan.

Kusan terbuat dari satu bahan saja yaitu bambu. Anyaman kusan ada yang berbentuk lebar dan ada pula yang kecil. Kusan dibuat dengan cara menyisik bambu menjadi helaian-helaian yang tipis dan halus kemudian membentuknya menjadi anyaman berbentuk kerucut.

Ukuran kusan yang biasa digunakan adalah tinggi 40 cm dengan diameter 25-30 cm. Ukuran tersebut dapat menampung beras sebanyak 2,5 kg. Ada juga kusan kecil atau yang biasa disebut kusan ceper (dalam bahasa Dermaji). Kusan ceper biasanya berukurang tinggi 15-20 cm dengan diameter sama seperti kusan besar. Kusan besar biasa digunakan untuk menanak nasi dan membuat tumpeng. Nasi yang dimasak menggunakan kusan rasanya enak dan bersifat pulen. Cara menggunakannya dilengkapi dengan bunthut yaitu alat seperti mangkok kecil yang terbuat dari bathok kelapa. Apabila nasi tersebut untuk pembuatan tumpeng maka tidak menggunakan bunthut dengan tujuan agar bentuknya indah seperti tumpeng-tumpeng yang dibuat masyarakat kota yang menggunakan kusan berbahan dasar aluminium. Kusan kecil pada umumnya digunakan masyarakat desa Dermaji untuk mengukus sayuran atau kluban sebagai bahan untuk pembuatan makanan atau bisa juga untuk mengukus kue yang dibungkus daun pisang dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.

Penggunaan kusan mulai jarang bahkan hampir punah setelah masyarakat menggunakan panci penanak nasi karena pancipenanak nasi tidak berpasangan dengan kusan tetapi ada alat tersendiri sedangkan kusan berbasangannya dengan dandang. Apalagi generasi saat ini sebagian besar menggunakan alat penanak nasi elektronik sehingga sama sekali tidak membutuhkan kusan. Hal tersebut sangat mengurangi devisa desa Dermaji karena warga Dermaji seringkali memilih membeli alat-alat penanak nasi elektronik yang berasal dari luar desa Dermaji dibandingkan membeli barang-barang yang ada di desanya. Pada saat ini hanya sebagian kecil yang menggunakan kusan sebagai alat menanak nasi yaitu kalangan orangtua. Para pemuda merasa malas menggunakannya karena mereka lebih memilih menggunakan mejicom dengan alasan mudah, cepat, dan tidak repot. Menurut sebagian besar orangtua mereka lebih memilih nasi yang dimasak dengan kusan daripada dengan mejicom karena rasanya sangat berbeda. (Novi K)