Ilir koleksi museum naladipa desa dermaji

Ilir, koleksi Museum Naladipa, Desa Dermaji

Ilir adalah kipas yang terbuat dari bambu yang dianyam. Kipas yang dimaksud di sini bukan kipas yang digunakan untuk menyejukkan tubuh kita pada saat kita merasa panas, tapi kipas untuk mendinginkan dan mengurangi asap pada nasi yang baru matang. Nasi yang sudah matang tidak langsung ditaruh di tempatnya tetapi terlebih dahulu ditaruh di ian untuk dihilangkan asap-asapnya. Asap nasi dihilangkan bertujuan untuk menambah rasa enak pada nasi yang akan disantap. Menurut orang terdahulu nasi yang dikipas menggunakan ilir dengan yang tidak dikipas rasanya sangat berbeda. Kipas itulah yang disebut dengan ilir.

Seperti halnya dengan kipas yang sering kita pakai pada saat kita merasa panas, ilir juga mempunyai tangkai untuk mempermudah penggunanya pada saat menggunakan. Ilir berbentu segi empat dengan dilengkapi gagang (tangkai) pada salah satu sisinya. Gagang  ilir terbuat dari kayu, biasanya kayu jati.

Salah satu pengrajin ilir yang berasal dari Desa Dermaji adalah Puryono (60). Dia tinggal di RT 03 RW I Grumbul Kelurahan, Desa Dermaji. Selain membuat ilir, Puryono berprofesi sebagai petani. Bahan yang digunakan untuk membuat ilir berupa bambu dan kayu jati. Mula-mula bambu dibuat anyaman berbentuk persegi dengan sisi kurang lebih 20-30 cm. Kayu jati disisik dan diperhalus untuk membuat pegangan ilir.

Untuk menggabungkan anyaman bambu dan tangkai, Puryono menggunakan tali yang berasal dari bambu agar menyatu dengan ilir yang sudah rapi dianyam. Pada ujung pegangan tidak lupa dibuat runcing agar ilir dapat dicantelkan di dapur mengingat masyarakat zaman dahulu pagar rumah terbuat dari anyaman bambu juga sehingga memudahkan untuk penempatan benda tersebut. Ukuran ilir juga disesuaikan dengan permintaan konsumen. Satu buah ilir biasanya berharga Rp 4.000,- sampai Rp 5000,-.

Di daerah lain biasanya ilir diberi pewarna agar menarik dan digunakan sebagai alat penyejuk ketika panas di siang hari. Namun, di Desa Dermaji ilir hanya digunakan untuk mengipasi nasi sehingga sengaja tidak diberi pewarna agar nampak natural dan berbeda dengan kipas yang berbentuk ilir seperti di daerah lain. Apabila digunakan selain untuk mengipasi nasi dianggap pamali “ora ilok”.

Para generasi muda jarang sekali yang dapat membedakan rasa nasi yang dikipas menggunakan ilir dengan yang tidak dikipas. Biasanya masyarakat yang menggunakan alat pemasak nasi modern tidak memerlukan ilir karena setelah nasinya matang mereka langsung melahap tanpa mengipasinya dengan ilir.

Sampai saat ini belum ada generasi muda yang mampu membuat ilir. Padahal faktanya dari pembuatan ilir dapat membantu kebutuhan ekonomi warga Dermaji mengingat bahan baku yang dibutuhkan sangat mudah didapat. (Novi K)

0 Shares